Memperkuat Jati Diri Bangsa: Strategi Indonesia dalam Menghadapi Ancaman Ketahanan Nasional di Era Digital
Wamena - Konsep Ketahanan Nasional (Tannas) telah lama menjadi pilar fundamental bagi kelangsungan hidup dan kemajuan Republik Indonesia.
Lebih dari sekadar kekuatan militer, Tannas adalah kondisi dinamis suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan (TAHG), baik dari dalam maupun luar negeri.
Di tengah arus globalisasi dan revolusi digital, tantangan terhadap ketahanan nasional Indonesia semakin kompleks dan memerlukan strategi adaptif yang jauh melampaui paradigma pertahanan tradisional.
Baca juga: Etika di Persimpangan Jalan: Mempertahankan Kompas Moral di Era Korporasi
Era Baru, Ancaman Baru: Dimensi Kontemporer Ketahanan
Secara tradisional, Ketahanan Nasional diklasifikasikan dalam delapan aspek yang dikenal sebagai Asta Gatra: Gatra Alamiah (Geografi, Kekayaan Alam, dan Kependudukan) dan Gatra Sosial (Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, dan Pertahanan Keamanan/Hankam).
Saat ini, fokus ancaman telah bergeser. Ancaman non-militer, khususnya di ranah siber dan ideologi, kini menjadi prioritas utama. Ketahanan Siber adalah medan pertempuran baru.
Serangan siber terhadap infrastruktur vital negara, penyebaran hoaks, disinformasi masif, dan upaya peretasan data pribadi warga menjadi ancaman nyata yang dapat melumpuhkan sistem ekonomi dan politik.
Selain itu, tantangan di bidang Sosial Budaya juga semakin menguat. Polarisasi politik, menguatnya paham radikalisme, dan perpecahan sosial yang dipicu oleh penyalahgunaan media sosial mengancam persatuan dan kesatuan bangsa yang berlandaskan Pancasila.
Di sektor Ekonomi, ketergantungan pada pasar global dan komoditas tertentu, serta kesenjangan sosial-ekonomi antarwilayah, masih menjadi kerentanan yang perlu diatasi untuk mencapai kemandirian ekonomi.
Strategi Komprehensif: Membangun Ketahanan Berbasis Rakyat
Pemerintah Indonesia menyadari bahwa memperkuat Ketahanan Nasional tidak bisa hanya bergantung pada sektor Hankam. Strategi yang dijalankan harus bersifat komprehensif integratif, melibatkan seluruh elemen bangsa dari pusat hingga daerah, dan dari aparatur negara hingga masyarakat sipil.
- Penguatan Ideologi dan Sosial Budaya: Pemerintah secara aktif menggalakkan revitalisasi nilai-nilai Pancasila. Program-program pendidikan karakter, penanggulangan radikalisme, dan promosi toleransi digencarkan. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang memiliki imunitas ideologis yang kuat, mampu menyaring dan menolak paham-paham yang bertentangan dengan jati diri bangsa.
- Peningkatan Ketahanan Siber: Pembentukan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) merupakan langkah konkret dalam membangun perisai siber nasional. Investasi dalam teknologi keamanan siber, pelatihan sumber daya manusia (SDM) ahli siber, dan edukasi publik tentang keamanan digital menjadi kunci. Ketahanan siber juga berarti memastikan kedaulatan data nasional.
- Pemerataan Ekonomi dan Pembangunan Infrastruktur: Pembangunan infrastruktur yang masif, terutama di wilayah terpencil dan perbatasan, bertujuan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi (Gatra Ekonomi) dan memperkuat konektivitas antarwilayah (Gatra Geografi). Melalui pemerataan pembangunan, diharapkan seluruh rakyat merasakan manfaat pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan memperkokoh persatuan nasional.
Tantangan Geopolitik dan Keterlibatan Global
Di ranah geopolitik, posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan letaknya yang strategis di persilangan dua samudra dan dua benua (Gatra Geografi) menjadikan negara ini sebagai arena kepentingan kekuatan besar dunia.
Menjaga stabilitas kawasan melalui politik luar negeri bebas aktif adalah kunci. Indonesia harus cerdas dalam merespons dinamika Laut Cina Selatan, isu kemanusiaan global, dan kerja sama ekonomi regional tanpa mengorbankan kepentingan nasional.
Baca juga: Memahami Kekuatan: Apa Itu Literasi dan Mengapa Ia Sangat Penting?
Menuju Indonesia Emas 2045
Menghadapi masa depan, upaya penguatan Ketahanan Nasional harus diarahkan pada pencapaian visi Indonesia Emas 2045. Hal ini menuntut SDM yang unggul, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), serta tatanan sosial yang adil dan makmur.
Dengan memitigasi risiko TAHG secara efektif dan terus mengembangkan seluruh potensi Gatra nasional secara seimbang, Indonesia optimis mampu menjaga kedaulatan, persatuan, dan meraih posisi sebagai negara maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.