Berita Terkini

Teknik Pengumpulan Data: Pengertian, Jenis, dan Contohnya Menurut Para Ahli

Wamena - Ketika satu suara bisa menentukan arah demokrasi, keakuratan data pemilih menjadi penentu keadilan pemilu. Kesalahan kecil dalam pengumpulan data tidak hanya berdampak pada angka statistik, tetapi juga pada legitimasi proses demokrasi itu sendiri.

Data sering disebut sebagai “bahan bakar” kebijakan publik. Namun, sekuat apa pun kebijakan dirancang, tanpa proses pengumpulan data yang tepat, kebijakan tersebut berisiko meleset dari kebutuhan masyarakat.

 

Teknik Pengumpulan Data Adalah Proses Sistematis Menghimpun Informasi

Teknik pengumpulan data adalah proses sistematis untuk menghimpun informasi atau data yang relevan dari berbagai sumber guna mencapai tujuan penelitian, pemecahan masalah, atau pengambilan keputusan.

Secara umum, teknik pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh data yang akurat, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Contoh teknik pengumpulan data yang umum digunakan:

  1. Observasi
    Mengumpulkan data melalui pengamatan langsung terhadap objek atau fenomena.
  2. Wawancara
    Mengumpulkan data dengan tanya jawab secara langsung atau tidak langsung dengan responden.
  3. Kuesioner (Angket)
    Mengumpulkan data melalui daftar pertanyaan tertulis yang diisi oleh responden.
  4. Dokumentasi
    Menggunakan arsip, laporan, foto, video, atau catatan resmi sebagai sumber data.
  5. Studi Pustaka
    Mengumpulkan data dari buku, jurnal, artikel, dan sumber ilmiah lainnya.

 

Teknik Pengumpulan Data Menurut Para Ahli

Berdasarkan pendapat para ahli, teknik pengumpulan data dapat diartikan sebagai cara atau prosedur sistematis yang digunakan peneliti untuk memperoleh data yang relevan, akurat, dan sesuai dengan tujuan penelitian.

  1. Sugiyono (2019)
    Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan peneliti untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian agar tujuan penelitian dapat tercapai.
  2. Arikunto (2013)
    Teknik pengumpulan data merupakan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data sesuai dengan variabel penelitian melalui alat tertentu seperti observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi.
  3. Creswell (2014)
    Teknik pengumpulan data adalah prosedur sistematis yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan informasi dari partisipan atau sumber data guna menjawab pertanyaan penelitian.
  4. Nazir (2014)
    Teknik pengumpulan data adalah proses pencarian data yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk memperoleh fakta-fakta yang dibutuhkan dalam suatu penelitian.
  5. Riduwan (2015)
    Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan untuk mengumpulkan data yang relevan dengan masalah penelitian sehingga data tersebut dapat dianalisis secara ilmiah.

 

Teknik Pengumpulan Data Kuantitatif

Teknik pengumpulan data kuantitatif adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam bentuk angka yang dapat diukur dan dianalisis secara statistik. Data kuantitatif bertujuan untuk menguji hipotesis, melihat hubungan antarvariabel, serta menarik kesimpulan secara objektif.

Jenis-jenis Teknik Pengumpulan Data Kuantitatif:

  1. Kuesioner (Angket)
    Teknik pengumpulan data dengan memberikan sejumlah pertanyaan tertulis kepada responden. Umumnya menggunakan skala pengukuran seperti Skala Likert, Guttman, atau Semantik Diferensial.
  2. Tes
    Digunakan untuk mengukur kemampuan, pengetahuan, atau keterampilan responden dalam bentuk skor atau nilai tertentu.
  3. Observasi Terstruktur
    Pengamatan yang dilakukan menggunakan instrumen baku dan indikator yang telah ditetapkan sehingga data yang diperoleh dapat dikuantifikasi.
  4. Dokumentasi Kuantitatif
    Pengumpulan data dari dokumen resmi seperti laporan statistik, arsip, atau data numerik yang telah tersedia.
  5. Pengukuran dengan Instrumen
    Pengumpulan data menggunakan alat ukur standar, seperti timbangan, alat ukur waktu, atau instrumen psikometri yang menghasilkan data numerik.

Dengan menggunakan teknik pengumpulan data kuantitatif, peneliti dapat memperoleh data yang objektif, terukur, dan dapat dianalisis secara statistik sehingga hasil penelitian memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi.

 

Teknik Pengumpulan Data Kualitatif

Teknik pengumpulan data kualitatif merupakan metode yang digunakan untuk memperoleh data berupa kata-kata, makna, pengalaman, dan pemahaman mendalam mengenai suatu fenomena. Data kualitatif bertujuan untuk memahami konteks, proses, serta perspektif subjek penelitian secara holistik.

Jenis-jenis Teknik Pengumpulan Data Kualitatif:

  1. Wawancara Mendalam
    Pengumpulan data melalui tanya jawab secara langsung dengan informan untuk menggali informasi secara mendalam dan detail.
  2. Observasi Partisipatif
    Peneliti terlibat langsung dalam aktivitas subjek penelitian untuk memahami perilaku dan situasi secara nyata.
  3. Dokumentasi
    Pengumpulan data dari dokumen, arsip, foto, catatan lapangan, atau rekaman yang relevan dengan fokus penelitian.
  4. Studi Pustaka
    Pengumpulan data dari buku, jurnal, laporan, dan sumber tertulis lainnya untuk memperkuat landasan teori dan analisis.
  5. Focus Group Discussion (FGD)
    Diskusi kelompok terarah yang bertujuan menggali pandangan, persepsi, dan pengalaman beberapa informan terhadap suatu isu.

Melalui teknik pengumpulan data kualitatif, peneliti dapat memperoleh pemahaman yang mendalam dan kontekstual terhadap fenomena yang diteliti, sehingga hasil penelitian mampu menggambarkan realitas sosial secara komprehensif.

 

Perbedaan Teknik Pengumpulan Data Kualitatif dan Kuantitatif

Aspek

Kualitatif

Kuantitatif

Tujuan

Memahami makna, proses, dan fenomena secara mendalam

Mengukur variabel dan menguji hipotesis

Bentuk Data

Kata-kata, narasi, deskripsi

Angka, skor, statistik

Teknik Pengumpulan Data

Wawancara mendalam, observasi partisipatif, FGD, dokumentasi

Kuesioner, tes, observasi terstruktur, pengukuran instrumen

Instrumen

Peneliti sebagai instrumen utama, pedoman wawancara

Angket, tes, alat ukur baku

Jumlah Responden

Relatif sedikit

Relatif banyak

Analisis Data

Deskriptif, tematik, interpretatif

Statistik deskriptif dan inferensial

Pendekatan

Induktif

Deduktif

Hasil Penelitian

Pemahaman mendalam dan kontekstual

Generalisasi dan pengujian teori

Perbedaan utama antara teknik pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif terletak pada tujuan dan bentuk data yang dikumpulkan. Penelitian kualitatif menekankan pemahaman mendalam terhadap fenomena melalui data deskriptif, sedangkan penelitian kuantitatif berfokus pada pengukuran variabel dalam bentuk numerik untuk menghasilkan kesimpulan yang bersifat generalisasi.

 

Contoh Penerapan Teknik Pengumpulan Data dalam Pemilu (Pemutakhiran data pemilih, Survei partisipasi pemilih, Evaluasi penyelenggaraan pemilu)

1. Pemutakhiran Data Pemilih

Pemutakhiran data pemilih bertujuan untuk memastikan akurasi dan validitas daftar pemilih tetap (DPT).

Teknik pengumpulan data yang digunakan:

  • Observasi lapangan: Petugas pemutakhiran data pemilih (Pantarlih) melakukan pencocokan dan penelitian (coklit) secara langsung ke rumah warga.
  • Wawancara: Petugas mewawancarai pemilih untuk memverifikasi identitas, status kependudukan, dan kelayakan sebagai pemilih.
  • Dokumentasi: Penggunaan dokumen resmi seperti KTP elektronik, Kartu Keluarga, dan database kependudukan sebagai sumber data sekunder.

Jenis data: Kuantitatif (jumlah pemilih) dan kualitatif (keterangan status pemilih).

2. Survei Partisipasi Pemilih

Survei partisipasi pemilih dilakukan untuk mengetahui tingkat keikutsertaan masyarakat dalam Pemilu serta faktor-faktor yang memengaruhinya.

Teknik pengumpulan data yang digunakan:

  • Kuesioner (angket): Disebarkan kepada responden untuk mengukur tingkat partisipasi, motivasi memilih, dan tingkat kepercayaan terhadap Pemilu.
  • Wawancara terstruktur: Digunakan untuk menggali alasan pemilih menggunakan atau tidak menggunakan hak pilihnya.
  • Dokumentasi statistik: Data tingkat kehadiran pemilih di TPS yang diperoleh dari penyelenggara Pemilu.

Jenis data: Kuantitatif (persentase partisipasi) dan kualitatif (alasan dan persepsi pemilih).

3. Evaluasi Penyelenggaraan Pemilu

Evaluasi penyelenggaraan Pemilu bertujuan untuk menilai efektivitas, transparansi, dan kualitas pelaksanaan Pemilu.

Teknik pengumpulan data yang digunakan:

  • Wawancara mendalam: Dilakukan terhadap penyelenggara Pemilu (KPU, Bawaslu), pengawas, dan pemangku kepentingan lainnya.
  • Focus Group Discussion (FGD): Melibatkan penyelenggara, pemantau Pemilu, dan masyarakat untuk membahas kendala dan perbaikan Pemilu.
  • Observasi: Pengamatan langsung terhadap proses pemungutan dan penghitungan suara di TPS.
  • Studi dokumentasi: Analisis laporan resmi, berita acara, dan regulasi Pemilu.

Jenis data: Kualitatif (penilaian proses) dan kuantitatif (jumlah pelanggaran, tingkat partisipasi, logistik).

Penerapan teknik pengumpulan data dalam Pemilu dilakukan secara beragam sesuai dengan tujuan kegiatan, mulai dari pemutakhiran data pemilih, pengukuran partisipasi pemilih, hingga evaluasi penyelenggaraan Pemilu. Kombinasi teknik kualitatif dan kuantitatif diperlukan untuk menghasilkan data yang akurat, komprehensif, dan dapat digunakan sebagai dasar perbaikan kualitas demokrasi.

 

Pendekatan Mixed Methods dan Contoh dalam Pemilu

Convergent Parallel Design
Pendekatan ini mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan, lalu membandingkan dan mengintegrasikan hasilnya.
Contoh: Evaluasi pemilu yang menggabungkan data statistik partisipasi pemilih, tingkat pelanggaran, dan hasil rekapitulasi suara dengan wawancara mendalam terhadap penyelenggara pemilu, pengawas, dan pemilih untuk menilai kualitas demokrasi secara menyeluruh.

  1. Explanatory Sequential Design
    Penelitian dimulai dengan data kuantitatif, kemudian diikuti data kualitatif untuk menjelaskan temuan statistik.
    Contoh: Setelah ditemukan secara kuantitatif bahwa partisipasi pemilih menurun di wilayah tertentu, peneliti melakukan wawancara dan FGD untuk menjelaskan faktor penyebabnya, seperti kepercayaan publik, logistik pemilu, atau isu keamanan.
  2. Exploratory Sequential Design
    Penelitian diawali dengan data kualitatif untuk mengeksplorasi fenomena, lalu dilanjutkan dengan pengukuran kuantitatif.
    Contoh: Peneliti mewawancarai pemilih dan petugas KPPS untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk intimidasi pemilu, kemudian menyusun kuesioner survei nasional guna mengukur seberapa luas fenomena tersebut terjadi.
  3. Embedded Design
    Salah satu metode menjadi metode utama, sementara metode lain disisipkan untuk memperkaya analisis.
    Contoh: Studi kuantitatif tentang efektivitas sosialisasi pemilu menggunakan survei nasional, dengan data kualitatif berupa observasi lapangan di beberapa TPS sebagai pelengkap untuk memahami dinamika teknis di hari pemungutan suara.
  4. Multiphase Design
    Pendekatan ini dilakukan dalam beberapa tahap penelitian yang saling berkesinambungan.
    Contoh: Evaluasi pemilu yang dilakukan mulai dari pra-pemilu (survei persepsi publik), masa kampanye (analisis konten dan wawancara aktor politik), hingga pasca-pemilu (analisis hasil dan sengketa), dengan kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif di setiap fase.

Pendekatan-pendekatan ini sangat relevan untuk kajian kebijakan publik, demokrasi, dan pemilu karena mampu menangkap pola umum (angka) sekaligus makna dan konteks (narasi).

 

Tantangan dalam Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan tahap krusial dalam penelitian dan penyelenggaraan Pemilu. Namun, dalam praktiknya terdapat berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kualitas dan keakuratan data yang diperoleh.

1. Akurasi dan Validitas Data

Data yang dikumpulkan berpotensi mengandung kesalahan akibat informasi yang tidak lengkap, data ganda, atau ketidaksesuaian antara data lapangan dan data administrasi.

2. Partisipasi Responden yang Rendah

Sebagian responden enggan memberikan informasi karena kurangnya kepercayaan, keterbatasan waktu, atau minimnya pemahaman terhadap tujuan pengumpulan data.

3. Bias Responden

Jawaban responden dapat dipengaruhi oleh kepentingan pribadi, tekanan sosial, atau keinginan untuk memberikan jawaban yang dianggap “aman” atau diharapkan.

4. Kendala Teknis dan Logistik

Keterbatasan akses wilayah, kondisi geografis, jaringan internet yang tidak stabil, serta keterbatasan sarana dan prasarana menjadi hambatan dalam proses pengumpulan data.

5. Kapasitas dan Kompetensi Petugas

Perbedaan kemampuan petugas dalam memahami instruksi, menggunakan instrumen, dan menerapkan prosedur pengumpulan data dapat memengaruhi konsistensi dan reliabilitas data.

6. Faktor Waktu

Pengumpulan data sering kali dibatasi oleh tenggat waktu yang ketat, sehingga proses verifikasi dan validasi data tidak dapat dilakukan secara optimal.

7. Faktor Etika dan Keamanan Data

Perlindungan data pribadi, kerahasiaan responden, serta keamanan penyimpanan data menjadi tantangan penting, terutama dalam pengumpulan data berbasis digital.

Berbagai tantangan dalam pengumpulan data menuntut perencanaan yang matang, penggunaan instrumen yang tepat, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dengan mengantisipasi tantangan tersebut, kualitas data yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan yang akurat dan berkelanjutan.

Temuan dan pembahasan dalam artikel ini menunjukkan bahwa teknik pengumpulan data yang sistematis dan terintegrasi merupakan prasyarat penting dalam penyusunan kebijakan publik yang efektif.

Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas petugas lapangan, standarisasi instrumen pengumpulan data, serta pemanfaatan teknologi informasi secara optimal, khususnya dalam pendataan pemilih dan penyelenggaraan pemilu. Implementasi rekomendasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas data, memperkuat kepercayaan publik, dan mendukung penyelenggaraan demokrasi yang transparan dan akuntabel.

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 4,491 kali